Tanggapan Orangtua Rencana Belajar Tatap Muka Di Tengah Pandemi, Masih Khawatir, Bersyukur, Antusias

Tanggapan Orangtua Rencana Belajar Tatap Muka Di Tengah Pandemi, Masih Khawatir, Bersyukur, Antusias

Karena sudah terlalu lama anak-anak menurut Celni sekolah di rumah, sehingga tidak maksimal lagi pelajaran yang akan masuk ke anak-anak. Untuk itulah menurut Celni pembelajaran dengan sistem daring tidak efektif. “Jadi 94% masih belajar dari rumah sedangkan 6% di zona hijau diperbolehkan seizin Pemerintah Daerah untuk melakukan belajar tatap muka tapi dengan protokol sangat ketat,” katanya.

Hal ini disampaikan oleh kepala desa Lumban Ina – ina Kecamatan Pagaran kepada RADARMEDAN.COM supaya pemerintah menutup beroperasinya tambang batu milik PT MIK di Batu Harang . Pemakaian masker dengan cara yang benar dapat mulai dikenalkan sejak usia 2 tahun, dengan durasi semampu anak, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi, melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar, serta terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan. Pengenalan kebiasaan mencuci tangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana memberi contoh secara rutin dan membersihkan tangan bayi sejak usia mulai MPAS, lalu ditingkatkan secara bertahap. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun atau hand sanitizer setelah bersin atau batuk. Tidak melepas masker saat bersin atau batuk karena masker dapat menahan percikan.

Sedangkan tidak semua orang tua faham dengan kurikulum pembelajaran yang ada,” imbuhnya. Menurut Ketua Fortusis Dwi Subawanto, sampai saat ini belum ada sinkronisasi pendapat tentang penetapan suatu daerah itu masuk dalam zona tertentu. Bahkan, data terjadi antara pemerintah pusat dan daerah sering tak sesuai.

Orang tua murid memegang hak mutlak untuk memperbolehkan anaknya sekolah tatap muka atau tetap melakukan pembelajaran jarak jauh. Jika orang tua merasa belum nyaman dan tidak mengizinkan anaknya untuk belajar tatap muka di sekolah, maka sekolah harus mengizinkan siswa tersebut untuk tetap belajar di rumah. Namun sebagian orang tua juga menyatakan keraguan untuk rencana pembelajaran tatap muka di sekolah. Hal itu berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan saat pandemi Covid-19. Namun bila orang tua tidak setuju dengan sekolah tatap muka, anak kembali belajar on-line.

Orang tua pun bisa menjadi stres dan hilang kesabaran ketika anak tetap tidak paham. Akhirnya, target pencapaian anak yang pada situasi normal bisa dicapai dalam satu semester misalnya, menjadi meleset. Inilah yang disebut studying loss yang dapat diartikan sebagai ketertinggalan pelajaran yang berakibat menurunnya kualitas pembelajaran. Di AS contohnya, learning loss ini berupa kemampuan siswa yang tertinggal 9-12 bulan dari waktu seharusnya. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa dampak learning loss ini baru dapat dilihat di masa depan.

Tanggapan orang tua mengenai sekolah tatap muka

Karena, walaupun vaksin sudah ada tapi perlu waktu berapa lama untuk menyuntikkan kepada masyarakat yang menjadi prioritas. Selaku orang tua, yang beraktifitas setiap hari juga bingung dalam mengontrol anak-anak dirumah. Jika guru sudah memberikan tugas melalui WhatsApp, terpaksa harus menunggu anak selesai mengerjakan tugas, baru bisa beraktifitas (kantor-red). Guru Pendidikan Agama islam SDN Kasin, Ulin Ni’am SPd mengatakan, secara tidak langsung adanya kebijakan ini, minimal dirinya harus siap dan belajar lagi. “Memang bagi Disdik DKI Jakarta penyelenggaraan tatap muka ini, selain mengikuti SKB 4 Menteri, lalu dengan SOP kami, hak pilih atau istilahnya hak orang tua memutuskan itu menjadi persyaratan yang utama,” sambungnya.

menanyakan pendapat para orang tua, seperti tanggapan Saprudinsyah orang tua dari siswi Kelas XI SMKN 3 Samarinda yang disampaikan melalui WhatsApp-nya. Setelah sekolahnya meminta persetujuan, dia langsung setuju dan mendorong Daftar Situs Judi Slot Terpercaya 2021 orang tuanya mengizinkan. Dilaksanakannya tes usap itu menurut dia menunjukkan sekolah dan Pemkab Wonogiri tak mau setengah-setengah dalam melaksanakan uji coba PTM. Sementara di Sekolah Luar Biasa maksimal 5 peserta didik per kelas.

Ratusan pelajar SMK tersebut terpapar virus yang berasal dari China ini. Meski pandemi, semestinya Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan harus tegas memberikan instruksi terkait proses belajar mengajar tatap muka, karena meski belajar through daring atau luring, dinilai tidak efektif. Kabar pembukaan sekolah dan proses belajar tatap muka dimasa pandemi Covid-19 itu diperuntukkan untuk TK, SD, SMP dan SMA/SMK ternyata mendapat respon waspada dari para orang tua siswa. Namun, tren penularan Covid-19 di Klaten yang menurun atau masuk zona kuning dalam pekan terakhir dan didukung survei, pemerintah memutuskan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. Sejatinya, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, namun juga tempat untuk berinteraksi dengan teman dan guru.

Jika dalam pelaksanaannya, terdapat wali siswa yang belum mengijinkan anak untuk sekolah tatap muka, maka pihak sekolah diharuskan tetap menyediakan pembelajaran jarak jauh atau daring bagi siswa tersebut. Keterlibatan orang tua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran daring, minimal dalam bentuk monitoring dengan cara keterlibatan, fokus, konsisten dan menguat serta memberi solusi kepada anak. Selanjutnya orang tua juga harus serba tahu dan terampil dalam menguasai materi pelajaran dan materi yang dihadapi anak. Semua orang tua memainkan peran penting dan berpengaruh dalam pendidikan anak-anak mereka.

Ia menilai anaknya akan lebih mudah menyerap pelajaran jika diajarkan langsung oleh gurunya di ruang kelas. “Jika suhu tubuh anak di atas batas, batuk, dan sesak napas, sebaiknya minta izin untuk tetap di rumah,” kata dr Ria. Berita Magelang merupakan media on-line resmi milik Pemerintah Daerah yang menyuguhkan berita seputar Kabupaten Magelang.

Comments are closed.